Keberlangsungan Adat Suku Dayak Ribun di Sanggau Kalimantan Barat: Suatu Tinjauan Etnografi

  • Arkanudin Arkanudin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tanjungpura
  • Rupita Rupita Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tanjungpura

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem hukum adat yang masih berlangsung pada suku Dayak Ribun di Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Subjek penelitian adalah Etnik Dayak Ribun. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan etnografi. Pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan secara langsung, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Etnik Dayak Ribun adalah subetnik Dayak Klemantan mendiami pedalaman Kabupaten Sanggau, terutama di Kecamatan Parindu dan sebagian kecil di Kecamatan Tayan Hulu, Tayan Hilir, Bonti, dan Kembayan. Secara historis, nenek moyang etnik ini berasal dari perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia, yaitu di daerah Nekan Entikong yang sekarang dikenal dengan Tembawang Ribun. Besar kecilnya hukuman adat diukur dengan istilah tahil. Hukuman adat yang paling berat adalah hukuman perkara pembunuhan, baik pembunuhan yang direncanakan maupun tidak sengaja yang disebut dengan adat patinyawa. Implikasi hasil penelitian ini bahwa kearifan lokal dan hukum adat yang merupakan kerangka etnografi yang dimiliki oleh etnik Dayak Ribun perlu dilestarikan. Hal ini mengingat perkembangan teknologi hari ini yang begitu cepat, maka tidak menutup kemungkinan kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang mereka akan tergerus zaman.


This study describes the customary legal system that is still taking place at Dayak Ribun in Parindu District, Sanggau Regency, West Kalimantan. The subject of the study was Dayak Ribun ethnic. The approach used in this study is the ethnographic approach. Data collection uses live observation techniques, in-depth interviews, and documentation studies. The results showed that Dayak Ribun ethnic is a root ethnik from Dayak Klemantan inhabiting the interior of Sanggau Regency, especially in Parindu District and a small part in the districts of Tayan Hulu, Tayan Hilir, Bonti, and Kembayan. Historically, this ethnic ancestor came from west Kalimantan-Malaysia border in Nekan Entikong area which is now known as Tembawang Ribun. The size of the customary punishment is measured by tahil terms. The harshest customary punishment is murder, whether the planned or in-accident murder called the patinyawa custom. The implication of this research is that local wisdom and customary law which is an ethnographic framework owned by Dayak Ribun ethnic needs to be preserved. This is considering the rapid development of technology today, it does not close the possibility that local wisdom inherited by their ancestors will be eroded by the times.


 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ahok, P. (1980). Etnografi Masyarakat Dayak Ribun di kecamatan Parindu. Pontianak: Lembaga Penelitian Universitas Tanjungpura.
Alif, M. J. A. (1993). Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Dayak. Kalimantan Review. 3(2), Edisi Januari-April.
Ananta, A., Arifin, E. N., & M.Sairi, H. (2014). A New Classification of Indonesia’s. ISEAS Working Paper, 1. Retrieved from www.iseas.edu.sg
Anyang, Y. C. T. (1998). Kebudayaan dan Perubahan Dayak Taman Kalimantan Barat Dalam Arus Modernisasi. Jakarta: Grasindo.
Ardiansa, J. (2021). Pendekatan Antropologis, Historis, dan Sosiologis terhadap Budaya Barapan Kerbau Suku Samawa. Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, Dan Budaya, 7(2), 57. https://doi.org/10.32884/ideas.v7i2.340
Arkanudin. (2005). Sebuah Penelitian Antropologi, Perubahan Sosial Masyarakat Peladang Berpindah. Pontianak: STAIN Press
Arkanudin. (2018). Perubahan Sosial dan Kebudayaan, Dalam Perspektif Antropologi, Yogyakarta: K-Media
Asfar, D. A., Ribun, B., Hulu, T., & Hilir, T. (2017). Diftongisasi Dalam Bahasa Ribun Diphthongization of Ribun Language. 11(1970).
Afrianti, S. (2020). Rimbo Larangan Kearifan Lokal Masyarakat Minang Kabau untuk Menjaga Kelestarian Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Agroprimatech. 4(1), 1–9.
Badan Pusat Statistik. (2018). Kabupaten Sanggau Dalam Angka 2017. Sanggau: Kantor Statistik Kabupaten Sanggau.
Hanani, S. (2013). Tanah Ulayat Dan Kemiskinan Perempuan. Kafa`ah: Journal of Gender Studies, 3(1), 27. https://doi.org/10.15548/jk.v3i1.67
Ishak, A., Kinseng, R. A., Sunito, S., & Damanhuri, D. S. (2017). Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit dan Perlunya Perbaikan Kebijakan Penataan Ruang. Perspektif, 16(1), 14–23.
Julia, & White, B. (2012). Gendered experiences of dispossession: Oil palm expansion in a Dayak Hibun community in West Kalimantan. Journal of Peasant Studies, 39(3–4), 995–1016. https://doi.org/10.1080/03066150.2012.676544
Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta.
Koesnoe, M. I. (1976). Perkembangan Hukum Adat Setelah Perang Dunia II, Dalam Rangka Pembaharuan Hukum Nasional. Berita Antropologi. Tahun ke-VIII, No. 25 Edisi Januari.
Kusni, J. J. (1994). Dayak Membangun, kasus Dayak Kalimantan Tengah, Jakarta: Grasindo.
Lontaan, J. U. (1975). Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.
Mac Iver, R. M., & Page, C. H. (1960). Society. New York: Barnes and Noble College Outline Series.
Muslim, I. A. (1994). Pola Penguasaan Pemilikan Tanah Pada Masyarakat Dayak di Kalimantan, Dalam Paulus Florus (ed.), Kebudayaan Dayak, Aktualisasi Dan Transformasi. Jakarta: Grasindo.
Niko, N. (2016). Anak Perempuan Miskin Rentan Dinikahkan: Studi Kasus Hukum Adat Dayak Mali Kalimantan Barat. Jurnal Perempuan. 88(21):83-95.
Niko, N. (2019). Perempuan Dayak Mali: Melindungi Alam dari Maut. Umbara, 2(2), 78–87. https://doi.org/10.24198/umbara.v2i2.20447
Niko, N. (2020). Gender Struggle : What Can We Learn from the Dayak Benawan Women ? Walailak Journal of Social Science. 13(2):269-292. Retrieved from https://so06.tci-thaijo.org/index.php/wjss/article/view/234156
Prameswari, S. I., Iskandar, A. M., Rifanjani, S. (2019). Dayak Hibun Local Wisdom in Preservation of Teringkang Forest in Beruak Gunam Village, Parindu Subdistrict, Sanggau Regency. Jurnal Hutan Lestari. 7(4): 1668–1681.
Riwut, T. (1985). Kalimantan Memanggil. Jakarta: Penerbit Endang.
Rona, M., Safa’at, R., Madjid, A., & Fadli, M. (2020). Restorative Justice in the Settlement of Traffic Accident Causing Death Toll According To the Perspective of Customary Judiciary in Sanggau District, West Kalimantan. Yustisia Jurnal Hukum, 9(1), 139. https://doi.org/10.20961/yustisia.v9i1.39351
Rupita, R., & Niko, N. (2020). From Socialism to Capitalism: Structural Poverty of Indigenous Women in West Kalimantan, Indonesia. JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo). 4(2): 187-200. doi: http://dx.doi.org/10.21580/jsw.2020.4.2.5786
Sapardi. (1991). Pengaruh Perkebunan Inti Rakyat Terhadap Rumah Tangga Petani di Kecamatan Parindu. Tesis, Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Sirait, M. (2009). Indigenous peoples and oil palm plantation expansion in West Kalimantan, Indonesia. Universiteit van Amsterdam and Cordaid Memisa, (May). Retrieved from http://85.90.61.18/8025708F004CE90B/(httpDocuments)/ 41E6C7AB8F028A12C12577CF00385D8A/$file/Indigenous+people+and+oil+palmplantations+in+west+kalimantan+-+May+2009.pdf
Suheri, A. (2017). Hukum Adat Sebagai Pranata Hukum Penangkalan Arus Globalisasi Hukum Adat Sebagai Pranata Hukum Penangkal Arus Globalisasi. Morality : Jurnal Ilmu Hukum, 3(2).
Sunkar, A., Saraswati, A., & Santosa, Y. (2019). Indigenous Dayak People ’ s Perceptions of Wildlife Loss and Gain Related to Oil Palm Development. 13(2), 37–42.
Spradley, J. P. (1980). Participant Observation. United State of America: Holt, Ronehart and Winston.
Syamsudin, M. (1996). Perkembangan Konsep Hukum Adat dari Konsepsi Barat ke Konsepsi Nasional (Sebuah Tinjauan Historis). Jurnal Hukum. 5(3):70-80.
White, B., & White, J. (2011). The gendered politics of dispossession : oil palm expansion in a Dayak Hibun community in West Kalimantan , Indonesia Global Land Grabbing. International Conference on Global Land Grabbing 6-8 April 2011, (April).
Published
2021-08-20
How to Cite
ARKANUDIN, Arkanudin; RUPITA, Rupita. Keberlangsungan Adat Suku Dayak Ribun di Sanggau Kalimantan Barat: Suatu Tinjauan Etnografi. Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya, [S.l.], v. 7, n. 3, p. 27-34, aug. 2021. ISSN 2656-940X. Available at: <https://jurnal.ideaspublishing.co.id/index.php/ideas/article/view/419>. Date accessed: 28 oct. 2021. doi: https://doi.org/10.32884/ideas.v7i3.419.